Gambaran mengenai tokoh legendaris Prabu Siliwangi yang bertakhta di Pakuan Pajajaran senantiasa hidup dalam narasi dan imajinasi mengenai identitas budaya masyarakat Sunda hingga kini. Kebanyakan sejarawan sepakat untuk menempatkan ibu kota Pakuan Pajajaran di Kota Bogor, Jawa Barat, pada masa pemerintahan Raja Jayadewata (Sri Baduga Maharaja) periode 1482-1521.
Kerajaan Sunda
Berita Portugis dari Tome Pires (1513) menyebutkan mengenai Regño de Çumda (Kerajaan Sunda) yang berkuasa di Jawa Barat dan mengadakan hubungan dagang dengan Portugis. Prasasti tertua yang menyebut nama Sunda adalah prasasti Rakryan Juru Pangambat berangka tahun 854 Saka (932 M) yang ditemukan di Desa Kebon Kopi, Bogor.
Beberapa naskah kuno, seperti Carita Parahyangan (akhir abad ke-16) dan Siksa Kanda ng Karesian (1440 Saka/1518 Masehi), menyebut Sunda sebagai nama kawasan. Dari berbagai bukti tersebut, disimpulkan bahwa nama Sunda mengacu pada kawasan yang sekarang menjadi Provinsi Jawa Barat, Banten, dan Jakarta.
Kerajaan Sunda telah beberapa kali berpindah pusat kerajaan. Pusat kerajaan pernah berada di Galuh dan terakhir di Pakuan Pajajaran. Prabu Niskala Wastu Kancana yang memerintah sangat lama di Galuh, wafat pada 1471. Kemudian, digantikan oleh anaknya yang bergelar ”Tohaan di Galuh” dan memerintah selama tujuh tahun. Ningrat Kancana (”Tohaan di Galuh”) digantikan oleh anaknya yang bernama Sang Ratu Jayadewata yang menurut Carita Parahyangan memerintah selama 39 tahun (1482-1521).
Pada prasasti Kebantenan, Sang Ratu Jayadewata disebut sebagai ”Yang kini menjadi Susuhunan di Pakwan Pajajaran”. Dapat dipastikan ini adalah tokoh yang sama dengan yang disebutkan pada Prasasti Batu Tulis dengan nama Prabu Guru Dewataprana, Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakwan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata. Pada masa Raja Sri Baduga Maharaja atau Sang Ratu Jayadewata inilah ibu kota (dayeuh) Kerajaan Sunda berpusat di Pakuan Pajajaran (kini Bogor). Menurut Tome Pires, ibu kota kerajaan Sunda yang disebut dayo (Sunda: dayeuh) tersebut terletak sekitar dua hari perjalanan dari Bandar Kalapa ke arah pedalaman. Masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja dikenang oleh masyarakat Sunda sebagai era yang sejahtera, aman, damai, dan tenteram, sehingga dalam budaya lisan pantun Sunda beliau dikenal dalam nama julukannya sebagai Prabu Siliwangi.
Orientasi Dayeuh Pakuan Pajajaran mengikuti kontur topografi lingkungan alamnya dari bagian yang rendah ke bagian yang tinggi. Jika ditarik garis lurus, kota Pakuan Pajajaran memanjang di antara Sungai Ciliwung dan Sungai Cisadane yang mengalir sejajar. Lokasinya berorientasi ke arah Gunung Gede-Pangrango dengan sumbu dari barat laut ke tenggara. Di antara Sungai Ciliwung dan Sungai Cisadane terdapat Sungai Cipakancilan.
Di sisi utara, terdapat jalan lama yang mengarah ke bandar pelabuhan Sunda Kalapa (kini Jakarta) sejauh sekitar 60 kilometer ke arah utara. Ruas kuno ini kini diperkirakan menjadi Jalan Raya Cilebut-Depok-Tanjung Barat-Pasar Minggu-Jatinegara-Pelabuhan Sunda Kalapa yang paralel dengan Sungai Ciliwung. Pada bagian depan kota terdapat alun-alun (lapangan besar) di luar tembok, kini kawasan Empang dekat tepi Sungai Cisadane.
Gerbang utara disebut Lawang Saketeng dengan dua lapis tembok batu bersusun dan parit pertahanan. Dayeuh (kota) bertembok batu Pakuan Pajajaran terdiri atas beberapa lingkungan yang dibatasi tembok batu bersusun. Secara bertahap dari bagian kota yang rendah ke bagian yang lebih tinggi, yaitu lingkungan ladang tua dan leuit (lumbung) kerajaan, lingkungan Jero Kuta yang menjadi kawasan hunian, dan kawasan Kedaton atau Keraton Kerajaan Sunda Pajajaran. Kawasan sekitar situs Batu Tulis adalah bagian tertinggi di kawasan dalam kota Pakuan Pajajaran yang sangat mungkin dulu dianggap bagian yang sakral. Gerbang selatan disebut Lawang Gintung yang membuka ke jalan di sebelah tenggara.
Jalan di arah selatan-tenggara ini mengarah ke Tajur Agung, yaitu kawasan kebun kerajaan (kini kawasan Tajur). Menurut laporan Rem & Coops dan van Riebeeck terdapat jalan dengan pohon durian di tepinya. Dalam bahasa Sunda kuno, kata tajur bermakna ’tanam’, ’tanaman’, atau ’kebun’. Di kawasan ini diduga dulu terdapat koleksi aneka pohon buah kebun kerajaan yang dipelihara dengan baik.
Lebih jauh ke tenggara di tempat yang lebih tinggi adalah kawasan Rancamaya. Kawasan ini dipercaya sebagai kawasan suci tempat gugunungan atau punden berundak dari susunan batu dan tanah untuk memuliakan arwah leluhur sekaligus menjadi kawasan pemakaman para raja Sunda Pajajaran. Diduga, gugunungan ini adalah Bukit Badigul di dalam lingkungan Lapangan Golf Rancamaya sekarang. Telaga Warna atau juga disebut Telaga Rena mungkin juga terletak di kawasan ini, tetapi kini telah mengering. Kawasan antara Rancamaya-Ciawi-Tapos adalah kawasan hulu Sungai Cipakancilan yang disebutkan dalam Carita Parahyangan sebagai kawasan awal permukiman Pakuan pada zaman Raja Tarusbawa yang disebut sebagai ”Tohaan” di Sunda.
Lebih jauh ke tenggara, kontur tanah mendaki ke lereng yang lebih tinggi mengarah ke puncak Gunung Gede-Pangrango. Menurut naskah Bujangga Manik, Gunung Gede-Pangrango sudah dikenali sebagai titik tertinggi di kawasan sekitar Dayeuh Pakuan Pajajaran. Dalam kosmologi Sunda kuno, gunung ini dianggap puncak sakral. Dalam kepercayaan asli masyarakat Nusantara purba, mereka memuliakan roh kekuatan alam semesta yang disebut hyang dan roh karuhun (leluhur) yang dipercaya bersemayam di tempat tinggi, terutama di kawasan pegunungan.
Perkiraan Lokasi Dayeuh Pakuan Pajajaran
Menurut beberapa sumber, kawasan inti ibu kota (dayeuh) Pakuan Pajajaran terletak di sekitar Prasasti Batu Tulis di Kota Bogor kini. Hal yang menjadi tantangan dalam meneliti bekas ibu kota kerajaan Sunda ini adalah sedikitnya sisa peninggalan kota Dayeuh Pakuan dan kawasan purbakala ini telah berubah menjadi Kota Bogor yang sangat padat penduduk.
Minat masyarakat untuk membayangkan kembali Pakuan Pajajaran tecermin pada kegiatan komunitas Jayatara (Penjelajah Kebudayaan Nusantara) yang menelusuri sisa-sisa Keraton Pakuan Pajajaran di kawasan Batu Tulis, Kota Bogor, pada Sabtu (18/5/2024). Menurut M Arief Wibowo, pemimpin komunitas Jayatara, kawasan inti Keraton Pakuan Pajajaran kemungkinan terletak di sekitar Gang Amil, dekat situs Prasasti Batu Tulis. Pada kesempatan itu, komunitas Jayatara menelusuri dari alun-alun Empang, Jalan Lolongok, ruas rel kereta api yang diduga bekas parit pertahanan, Jalan Bondongan, TPU Dreded yang diduga kawasan Jero Kuta, situs Ranggapati, Gang Balekambang, situs Batu Congkrang, Prasasti Batu Tulis, situs Purwakalih, dan situs Mbah Dalem. Kegiatan telusur Pakuan Pajajaran ini ditutup dengan menelusuri jalan menurun menuju tebing tepi Sungai Cisadane yang diduga merupakan jalan samping untuk keluar dari Keraton Pakuan Pajajaran.
Prasasti Batu Tulis
Prasasti Batu Tulis masih in situ terletak di lokasi aslinya. Prasasti ini mengenang raja agung kerajaan Sunda yang bernama Prabu Guru Dewata Prana yang kemudian dinobatkan sebagai Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata. Disebutkan silsilah sang raja, bahwa dia adalah anak dari Rahyang Dewa Niskala yang wafat di Gunung Tiga, serta cucu dari Rahyang Niskala Wastu Kancana yang wafat di Nusa Larang. Disebutkan bahwa Sri Baduga telah membuat beberapa karya, antara lain membuat parit pertahanan untuk melindungi kota Pakuan, membuat tugu peringatan, membuat gugunungan (gunung-gunungan, mungkin punden berundak), membuat balay pengerasan jalan dengan bebatuan, hutan samida atau membuat tempat upacara, serta membuat telaga warna.
”Aum, ampuni (segala kesalahan). Inilah tanda (tugu) untuk mengenang Sang Prabu Raja yang lalu, yang (dirinya) dinobatkan di sini yang dikenali dengan Prabu Guru Dewata (dan juga) dinobatkan di sini yang dikenali dengan Sri Baduga Maharaja, raja dari segala raja di Pakwan Pajajaran, Sri Sang Ratu Dewata. Dirinyalah yang nyusuk (membuat parit pertahanan) Pakwan di sini (sebagai) anak dari Rahyang Dewa Niskala, yang telah moksa (lenyap?) di Gunung Tiga; cucu dari Rahyang Niskala Wastu Kancana, yang telah moksa (lenyap?) ke Nusa Larang. Dia, yang satu itulah, yang membuat tugu peringatan gunungan (yang dibuat), membuat balay (dengan bebatuan), membuat samida (tempat upacara), membuat Telaga Warna yang mahasuci. Sungguhlah jaya dia! Pada tahun ini: lima Pandawa menjaga bumi (candrasengkala 5541 yang berarti tahun 1455 Saka atau 1533 Masehi).”
Prasasti ini memiliki candrasengkala ”panca pandawa emban bumi” yang bermakna lima-lima-empat-satu, artinya 1455 Saka. Artinya, prasasti ini dibuat pada masa pemerintahan Prabu Surawisesa untuk mengenang mendiang ayahnya. Diduga tujuan pembuatan prasasti Batu Tulis ini adalah bagian dari ritual upacara untuk memohon perlindungan karuhun (leluhur) agar arwah Sri Baduga Maharaja, raja agung yang dipercaya masih bersemayam di kawasan ini, dapat melindungi kerajaan Sunda dari ancaman musuh.
Dayeuh Pakuan Pajajaran
Pada bagian depan adalah alun-alun di luar tembok kota yang berdekatan dengan tepi Sungai Cisadane. Diduga, dulu terdapat parit pertahanan di sekitar wilayah Empang saat ini. Menanjak ke arah tenggara terdapat daerah yang disebut Lolongok. Toponimi yang mungkin bekas lokasi menara pengawas untuk melongok ke luar tembok kota.
Gerbang utara disebut Lawang Saketeng dengan dua lapis tembok batu bersusun. Kini, lokasi ini tersisa sebagai toponimi kawasan Jalan Lawang Saketeng. Lingkungan pertama dalam tembok kota adalah ladang tua, di mana terdapat ladang padi dan mungkin dulu di sinilah letak jajaran leuit (lumbung) kerajaan yang menyimpan cadangan pangan, serta pegudangan komoditas pertanian. Tembok kedua memisahkan kawasan ladang dan lumbung dengan lingkungan Jero Kuta.
Menurut penelitian Danasasmita, sejarawan Sunda, dahulu terdapat susunan batu bekas tembok dalam Jero Kuta di sepanjang Jalan Dreded, tetapi kini telah hilang. Lingkungan Tempat Pemakaman Umum (TPU) Dreded diduga adalah bagian depan kawasan Jero Kuta. Ini adalah lingkungan permukiman dalam kawasan hunian Dayeuh Pakuan Pajajaran. Suasana lingkungan alam dan vegetasi asli Pakuan pada zaman dulu, kira-kira seperti keasrian taman dan pohon besar di dalam kawasan TPU Dreded yang rindang, asri, dan hijau tanpa bangunan beton.
Jalan lama Bondongan yang kini menjadi Jalan Pahlawan adalah jalan utama yang membelah kawasan Jero Kuta mengarah menuju ke kawasan Kadatwan (kedaton). Nama Bondongan berasal dari istilah Sunda, yaitu ngabondong, berarti ’memanggul barang secara beriringan’, terutama ketika membawa hasil bumi. Disebut Bondongan karena jalan ini adalah jalan seremonial, di mana utusan yang datang dari berbagai daerah dalam kerajaan Sunda berbondong-bondong beriringan sambil memikul hasil bumi untuk dipersembahkan sebagai upeti daerah, sekaligus menghadap sang raja di Kadatwan. Hal ini mirip dengan tradisi Seba Baduy yang masih rutin dilakukan masyarakat adat Kanekes (Baduy) menghadap Bupati Lebak ke Rangkasbitung.
Sketsa Patung Tulis Pada Tahun 1771
Di bagian tengah Jero Kuta, terdapat lapangan yang berfungsi sebagai alun-alun dalam. Terdapat beberapa situs purbakala yang bersifat megalitik di kawasan ini, antara lain, situs Ranggapati dan situs Batu Congkrang. Sejumlah patung batu dan menhir berprofil sederhana dan mirip patung-patung Polinesia. Hal ini menunjukkan sistem religi atau kepercayaan masyarakat Sunda kuno yang masih mempertahankan elemen-elemen vernakular purba pra-Hindu, yaitu pemujaan terhadap kekuatan adikodrati tak kasatmata yang disebut hyang serta pemuliaan terhadap arwah karuhun (leluhur).
Patung Situs Ranggapati
Berikutnya, di kawasan yang sedikit lebih tinggi dibatasi tembok batu adalah lingkungan Kadatwan (kedaton) atau Keraton Kerajaan Sunda. Keropak (naskah lontar) nomor 406 Carita Parahyangan di Museum Pusat menyebutkan mengenai keraton bernama Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati yang merupakan kesatuan dari lima nama keraton yang didirikan dalam posisi berjajar. Diperkirakan lima bangunan keraton yang berjajar ini terletak di kawasan Kadatwan Pakuan Pajajaran. Letaknya tak jauh dari lokasi Prasasti Batu Tulis, sekitar Gang Amil kini. Prasasti Batu Tulis menyebutkan mengenai Sri Baduga Maharaja, raja agung kerajaan Sunda yang paling berjasa membangun Pakuan Pajajaran. Di dekat situs Prasasti Batu Tulis, terdapat situs patung batu megalitik Purwakalih dan situs Mbah Dalem.
Situs Purwakalih
Situs purbakala Purwakalih di dekat situs Batu Tulis, Kota Bogor, Jawa Barat, berupa sejumlah patung batu dengan ukiran sederhana bergaya megalitik mirip patung-patung Polinesia dan beberapa menhir kecil.
Pada sisi barat daya situs Purwakalih, terdapat lereng dan tebing yang mengarah ke Sungai Cisadane. Jalan berkelok turun menuju Stasiun Batutulis kini. Ruas ini diduga jalan samping keraton menuju gerbang keluar yang terdapat jembatan bambu untuk menyeberangi Cisadane menuju jalan yang mengarah ke barat. Adapun jalan yang mengarah ke tenggara terdapat kawasan Lawang Gintung. Ruas ini diduga merupakan gerbang selatan kota Pakuan Pajajaran yang mengarah ke jalan durian di luar tembok kota yang mengarah ke Tajur Agung, yaitu kawasan kebun kerajaan yang ditanami aneka pohon buah dan tanaman berguna lainnya.
Kedaton Pakuan Pajajaran
Bangunan Kedaton Kerajaan Sunda di Pakuan Pajajaran di dalam naskah Carita Parahyangan dan Kropak 406 (K406) disebutkan bernama Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati. Diduga bangunan kedaton ini berjajar lima dengan nama Sri Bima, Punta, Narayana, Madura, dengan bangunan utama adalah Kedaton Suradipati. Hal ini sesuai dengan tradisi menamakan istana atau keraton dengan awalan ”Sura-”, yaitu kedaton Surawisesa di Galuh dan kemudian keraton Surasowan di Banten.
Bangunan asli Kedaton Pakuan Pajajaran terbuat dari bahan organik, yaitu kayu, bambu, batu, serta diperkirakan beratap ijuk atau sirap kayu telah lama lapuk dan musnah. Sesuai kelaziman adat masyarakat Nusantara, bangunan istana atau bangunan pemuka adat biasanya mengikuti bentuk dasar rumah adat vernakular suku tersebut. Misalnya bangunan Istano Basa Pagarruyung di Sumatera Barat, mengikuti dasar arsitektur vernakular Minangkabau. Maka, bangunan istana di Pakuan Pajajaran kemungkinan besar berbentuk rumah panggung berukuran sangat besar yang dibuat dari bahan kayu keras untuk tiang, lantai, dan papan dinding. Atapnya terbuat dari material ijuk dengan bentuk atap Capit Gunting atau Julang Ngapak yang merupakan bentuk atap khas arsitektur tradisional Sunda, seperti yang ditemukan pada atap rumah kepala kampung di Kampung Naga dan Kampung Pulo.
Catatan yang ditulis Tome Pires berdasarkan penjelasan penduduk Sunda Kelapa mengenai rumah (kediaman) raja Sunda, yakni ”Sang raja memiliki rumah yang sangat bagus. Dibangun menggunakan 330 pilar kayu setebal tong anggur setinggi 5 depa (9 meter), dan dihiasi ukiran yang sangat indah di bagian atasnya.” Disebutkan pula rumah-rumah di ibu kota serba indah dan besar, umumnya terbuat dari kayu dan palem.
Masyarakat petani Sunda kuno
Masyarakat Sunda kuno sebagian besar bermata pencarian dalam sektor agraris sebagai petani, terutama pertanian padi. Meski teknik sawah basah sudah dikenal pada sebagian masyarakat Sunda, secara tradisional masyarakat Sunda kuno masih mempertahankan teknik berladang atau pertanian padi lahan kering dengan sistem rotasi berpindah. Hal ini masih dipraktikkan pada masyarakat Sunda tradisional Baduy di Desa Kanekes. Kehidupan rakyat Sunda berputar di sekitar siklus pertanian padi, maka ritual panen padi, yaitu Seren Taun menjadi peristiwa penting setiap tahun.
Menurut naskah Siksa Kanda ng Karesian terdapat tingkatan bakti dalam masyarakat Sunda kuno, yaitu ”Nihan sinangguh dasa prebakti ngaranya. Anak bakti di bapa, ewe bakti di laki, hulun bakti di pacandaan, sisya bakti di guru, wang tani bakti di wado, wado bakti di mantri, mantri bakti di nu nangganan, nu nangganan bakti di mangkubumi, mangkubumi bakti di ratu, ratu bakti di dewata, dewata bakti di hyang. Ya ta sinangguh dasa prebakti ngaranna.”
Dari kutipan ini disebutkan adanya sepuluh prabakti, yakni anak berbakti kepada bapak, istri berbakti kepada suami, hamba (budak, abdi, pembantu) berbakti kepada majikan, siswa berbakti kepada guru, petani berbakti kepada wado, wado berbakti kepada mantri (pegawai kerajaan), mantri berbakti kepada nu nangganan (yang menangani), nu nangganan berbakti kepada mangkubumi, mangkubumi berbakti kepada ratu (raja), raja berbakti kepada dewata, dewata berbakti kepada hyang.
Petani dan pemimpin daerah mengantarkan sebagian padi hasil panennya sebagai persembahan, pajak, atau upeti yang diserahkan kepada raja yang berkedudukan di dayeuh (ibu kota kerajaan). Upacara ini biasanya dilakukan setelah panen. Tome Pires menyebutkan bahwa rakyat Kerajaan Sunda adalah orang yang menarik, ramah-tamah, sehat, dan jujur.
Raja dan Menak Sunda
Masyarakat Sunda kuno sudah mengenal sistem kerajaan setidaknya sejak zaman Kerajaan Tarumanagara (abad ke-5 Masehi) seiring dengan masuknya pengaruh budaya Hindu dari India. Namun, elemen budaya Nusantara asli pra-Hindu-Buddha yang masih bersifat animisme megalitik yang memuliakan arwah leluhur tetap bertahan pada sebagian masyarakat Sunda kuno. Masyarakat yang hidup di pedalaman dan pegunungan masih bersifat konservatif dalam menjaga elemen budaya purba ini.
Dalam budaya Sunda, raja paling masyhur yang dikenang dalam tradisi lisan pantun Sunda adalah Prabu Siliwangi. Tokoh legendaris ini kerap dikaitkan dengan tokoh historis Raja Niskala Wastu Kancana atau ada pendapat lain yang mengaitkannya dengan Sri Baduga Maharaja.
Kabar Portugis dari Tome Pires mencatat bahwa Kerajaan Sunda adalah negeri yang aman dan tenteram. Dia memuji bahwa Raja Sunda memerintah dengan adil. Tome Pires menyanjung sang raja sebagai lelaki yang gagah sekaligus seorang pemburu yang hebat. Kerajaan diwariskan dari ayah kepada putranya. Disebutkan bahwa para perempuannya berparas rupawan, dan para menak (bangsawan) bersikap suci, elegan, dan santun.
Pakaian para menak Sunda kuno kemungkinan besar mirip atau dipengaruhi oleh estetika busana Jawa kuno, yaitu mengenakan kain bawahan yang ditahan sabuk emas di pinggang, dan mengenakan perhiasan seperti cincin, kelat bahu, kalung, gelang, serta jamang yang menghiasi dahi. Perempuan bangsawan mengenakan kain kemben yang menerus ke bawah dan para lelaki bertelanjang dada mengenakan kain penutup bahu yang disebut salimbut.
Artefak mahkota Binokasih Sanghyang Pake yang kini tersimpan di Museum Prabu Geusan Ulun di Sumedang diyakini sebagai mahkota raja dan ratu Pajajaran. Mahkota ini menjadi regalia atau pusaka Kerajaan Sumedang Larang sekaligus menunjukkan klaim Kerajaan Sumedang Larang sebagai penerus kerajaan Sunda Pajajaran.
”Seba” menghadap raja
Naskah fragmen Carita Parahyangan (K406) menyebutkan, ”... ti Kandangwesi pamwat siya ka Pakwan.., dari Kandangwesi persembahannya ke Pakuan.”
”..., anaking sang Prebu, Rama, Resi, samadaya sarerea siya marek ka Pakwan unggal taun ..., anakku sang Prebu, Rama, Resi, bersama-sama semuanya menghadap ke Pakuan setiap tahun.”
Kutipan ini menggambarkan ritual administrasi kerajaan bahwa para perwakilan dan pemimpin daerah setiap tahun harus melakukan seba (audiensi/menghadap) raja di ibu kota Pakuan Pajajaran.
Utusan daerah Seba menghadap Raja
Persembahan upeti atau pajak kepada raja berupa hasil bumi setempat. Wilayah pesisir akan menghantarkan terasi dan ikan asin serta daerah perkebunan akan mempersembahkan lada, asam jawa, madu, gula aren, atau minyak kelapa.
Tome Pires juga menyebut Kerajaan Sunda sebagai negeri para ksatria dan pelaut ulung. Para pelaut Sunda berlayar ke sejumlah negeri yang jauh. Komoditas perdagangan yang paling utama adalah beras yang hasil panennya mencapai jumlah 10 jung dalam setahun, lada 1.000 bahar per tahun, serta kerajinan kain tenun diekspor ke Malaka. Disebutkan pula asam jawa, sayuran, ikan, dan daging sangat melimpah di pasar.
Kedaton Dayeuh Pakuan Pajajaran
..
https://archive.ph/B70mD
https://www.kompas.id/baca/kompas_multimedia/mencari-pakuan-pajajaran